expand();

Rabu, 23 Juni 2010

Syekh Yusuf Qardhawi

Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur'an. Menamatkan pendidikan di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.
Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.
Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam "pendidikan" penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.
Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rejim saat itu.
Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya.
Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.
Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.
Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.
Profil Syekh Yusuf Al-Qardhawi dapat diikuti secara lengkap di situs Hidayatullah.

Profil Penulis

Saya adalah seorang mahasiswa kimia Universitas Negeri Jakarta. Saya sedang menjalani skripsi yang ketiga kalinya. Judul skripsi saya yang pertama adalah Optimasi waktu pada reaksi esterifikasi pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas dan karakterisasinya. Namun, saya gagal menyelesaikannya karena faktor finansial. Judul skripsi yang kedua adalah pengaruh laju volumetrik dan suhu terhadap kinerja Fuel Cell.
Saya dilahirkan di Bandung pada tanggal 05 Mei tahun 1986. Saya besar di kota yang tersohor dengan atraksi debusnya, yaitu Serang-Banten. Hobi saya antara lain : membaca buku yang bermanfaat, mendengarkan murottal Al-Qur'an, menonton dan mengamati perkembangan motoGP, berolahraga jogging, bela diri, dan lain-lain.
Harapan saya, semoga tulisan yang saya tulis di blog ini dapat bermanfaat, terutama bagi para penggemar motoGP. Sebenarnya saya ingin menulis mengenai hal-hal tentang agama, kimia, dan apa-apa yang ada di sekitar saya tetapi tema blog yang membatasi saya dalam menulis hal tersebut.

Friday, June 18, 2010

Ikatan Ukhuwah

Ikhwahfillah rohimahullah,

Renungkanlah sebuah doa berikut ini

Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencintai-Mu, bertemu untuk mentaati-Mu, bersatu untuk berdakwah di jalan-Mu, berjanji untuk membela syariat-Mu. Ya Allah! Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah kecintaannya, tunjukkilah jalannya, penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah padam, lapangkanlah dadanya dengan luapan iman pada-Mu, indahkanlah ketawakalan pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifah kepada-Mu, danmatikanlah sebagai syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baiknya penolong dan sebaik-baiknya pelindung....Amin.

إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَإِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.." (Al Hujurat [49]:10)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan sebuah hadits tentang manisnya keimanan, "mencintai saudaranya karena Allah"
Ukhuwah pun merupakan kaliman nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada orang-orang beriman,

وَاذْكُرُواْنِعْمَةَاللّهِعَلَيْكُمْإِذْكُنتُمْأَعْدَاءفَأَلَّفَبَيْنَقُلُوبِكُمْفَأَصْبَحْتُمبِنِعْمَتِهِإِخْوَانًا

"Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dulu (jahiliyah) saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu dan menjadikan kamu, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara" (al-'Imran [3]:103)

Kenikmatan ukhuwwah tidak dapat diganti dengan yang lain, bahkan tidak tergantikan. Segala bentuk kemenangan dunia, seperti kemenangan politik dan bergelimangnya fasilitas dunia, tidak akan berarti apa-apa jika berdampak pada rusaknya ukhuwwah. Rusaknya ukhuwwah, berarti rusaknya keimanan. Kemenangan itu hakekatnya bukanlah kemenangan jika pondasinya rusak. Itu lebih tepat disebtu fitnah. Dalam perspektif dakwah, kemenangan ditunjukkan dengan menangnya keimananan dan ukhuwwah atas sekulerisme dan materialisme.
Fitnah materi, memang menjadi faktor perusak ukhuwwah yang sangat dahsyat. Indahnya kebersamaan dan kecintaan akan melemah dan kering digilas pola hidup materialisme. Budaya saling shilaturahim diganti dengan budaya saling menjauh, budaya husnuzhan diganti budaya su'uzhan, budaya menutup aib diganti budaya gosip, budaya menolong diganti budaya menghina. Jika itu yang muncul dalam tubuh orang mukmin, yakinilah bahwa fitnah dunia sudah masuk ke dalamnya. Imam Al-Ghozali pernah ditanya, "Mungkinkah para ulama saling hasad?" Beliau menjawab, "Ya jika dunia sudah masuk ke jiwa mereka."

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons